Burung mungil yang satu ini segera kembali naik
daun dan mulai di gandrungi para penggemar burung
berkicau. Adalah burung
Pleci (Zosterops), khususnya jenis Auriventer (Zosterops palpebrosus
auriventer). Burung yang secara fisik memiliki warna hijau kekuningan ini
sebenarnya memiliki banyak jenis, di kalangan para penggemar burung
kicau sedikitnya ada tiga jenis Pleci yang biasanya dipelihara, yaitu Pleci
Montanus (Zosterops montanus), Pleci Buxtoni (Zosterops palpebrosus buxtoni)
dan Pleci Auriventer (Zosterops palpebrosus auriventer).
![]() |
Namun Pleci jenis Auriventer kembali memperoleh
tempat di hati penghobi burung kicau. Menurut beberapa penghobi burung
pleci (Om Adi Bolank & Om VJ Young), setidaknya salah satu faktor yang
membuat Pleci Auriventer kembali diburu lantaran stoknya di pasaran yang cukup
banyak saat ini, sementara faktor lainnya dimungkinkan para penghobi terpikat
dengan suara Pleci Auriventer yang dianggap lebih ngebas dari jenis Pleci
lainnya, imbuh Om Bolank
Rata-rata penggemar burung
mencari Pleci Auriventer karena tahu kalau ocehannya lebih ngebas, lebih low, serta
mentalnya lebih bagus, kalau ditempel dengan burung
sejenis dia tetap rajin bunyi, atau lebih cenderung sebagai burung
petarung. kata Om Adi Bolank saat di temui Team
KOLONI Zosterops di rumahnya yang berada di Karang Kepoh Tegalrejo Salatiga.
Adi Bolank menjelaskan, Pleci Auriventer
sebenarnya sudah cukup lama menjadi incaran para penggemar burung,
hanya saja di pasaran lumayan sulit ditemui. Belakangan ini ketika stoknya
mulai banyak, para penggemar beramai-ramai memburunya. Harga seerkor burung
Pleci Auriventer memang lebih mahal dibanding jenis Pleci lainnya. Untuk Pleci
Auriventer yang tergolong masih bahan dibanderol Rp 150-200 ribu. Sementara
untuk yang sudah dijamin jenis kelaminnya jantan seekor bisa mencapai Rp
250ribu.
"Pleci Auriventer habitatnya endemik antara
lain di wilayah Aceh, Medan dan Kepulauan Riau. Posturnya memang lebih kecil
bila dibanding dengan jenis Montanus atau Buxtoni. Ciri utamanya salah satunya
ada di bagian kacamata atau bulu putih yang melingkar pada sekitar mata lebih
tebal. Satu lagi bulu bagian dada berwarna putih abu-abu," ujar Om Bolank.
Burung ini di habitat aslinya gemar berkeliaran
di daerah hutan bakau dan pesisir. Setiap mencari makan, mereka cenderung berkoloni.
"Burung ini berkoloni paling banyak enam ekor. Kalau bertemu koloni lain
meskipun sejenis, mereka nggak akan mau bergabung. Pemeliharaannya relatif
mudah, sama seperti jenis Pleci lain. Untuk buah bisa diberi pisang, extra
foodingnya bisa kroto atau ulat hongkong, bisa juga diberi madu/ nectar,"
lanjut Om Bolank.
Om Adi Bolank menambahkan, di negara tetangga
seperti Malaysia dan Singapura burung ini menjadi favorit. Bedanya ketika digelar lomba,
sangkar burung
tak digantang tinggi lazimnya lomba burung
di Salatiga atau kota-kota lain.
kita tunggu waktunya Nusantara Ngalas Tanpa Batas bersama KOLONI Zosterops...
kita tunggu waktunya Nusantara Ngalas Tanpa Batas bersama KOLONI Zosterops...

